• ZulaikaNafira

Dampak Omnibus Law RUU Cipta Kerja dan cara menghadapinya

Diperbarui: 27 Okt 2020





Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja memunculkan penolakan yang berujung aksi demonstrasi di kalangan kelompok pekerja 'kerah biru' atau yang bekerja di sektor manufaktur.


Di sisi lain, belum terlihat ada reaksi dari pekerja kerah putih atau kantoran, yaitu pekerja terdidik. Padahal, jika RUU itu disahkan, semua jenis dan kelas pekerjaan akan terdampak langsung.

Pemerintah Indonesia kini melakukan sosialisasi RUU Cipta Kerja ke publik dan mengatakan masih terbuka ruang pembahasan dan dilakukan perubahan.


BBC News Indonesia berhasil mewawancari beberapa pekerja perbankan mengenai RUU Cipta Kerja. Beberapa diantaranya adalah Susi dan Citra yang mengaku tidak peduli akan isi RUU tersebut karena merasa bahwa RUU tersebut hanya merugikan untuk buruh manufaktur.


Susi dan Citra adalah sedikit cerminan sikap pekerja kantoran yang disebut Ketua Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) Ellena Ekarahendy "masa bodoh" dalam menyikapi RUU Cipta Kerja.

Menurut Ellena sikap pekerja kantoran itu disebabkan karena mereka merasa RUU Cipta Kerja hanya akan berdampak pada pekerja manufaktur. "Padahal, sebenarnya ke semua lini jenis pekerjaan, termasuk kerja kantoran," kata Ellena.

"Teman-teman kelas menengah yang upah di atas Rp5 juta merasa aman dan diam saja. Tapi setelah RUU ini disahkan, posisinya akan sangat terancam," katanya.